RSS Feed

PERKEMBANGAN MORAL DAN KEAGAMAAN ANAK (Tugas Perkembangan Peserta Didik)

Posted on

PERKEMBANGAN MORAL DAN KEAGAMAAN ANAK

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

Disusun oleh :

Nurailin Mukarromah 1200263

Riska Eka Putri 1202311

Widi Setiadi 1202842

Muhammad Irfan Ilmy 1206179

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

 

2012

 

 

KATA PENGANTAR

 

 Segala puji hanya milik Alloh yang senantiasa memberikan nikmat yang tiada terhingga bagi kita semua. Alhamdulillah atas ridhonya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul ” Moral dan Keagamaan Anak ” dengan baik dan tepat waktu.

Maksud dan tujuan penyusunan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik.

Makalah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :

  1. bapak Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd selaku Dosen pengampu Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik yang telah memberikan pengarahan terkait penyusunan makalah ini;
  2. orang tua kami yang memberikan dorongan motivasi untuk belajar dengan sungguh- sungguh;
  3. teman seperjuangan yang senantiasa memberikan motivasi agar tugas ini dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.

 

Akhirnya, semoga makalah ini bisa bermanfaat khususnya bagi kami selaku penyusun dan umumnya bagi seluruh pembaca. Tentunya kami merasa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran membangun sangat kami harapkan demi kemajuan penyusunan makalah selanjutnya di lain kesempatan.

Bandung,    November 2012

Penyusun,

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. …. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. …. ii

A. Rasional…………………………………………………………………………………………….. 1

B. Teori Pokok……………………………………………………………………………………….. 3

1.    Pengertian Moral……………………………………………………………………………. 3

2.    Pengertian Pendidikan Keagamaan………………………………………………….. 3

3.    Pengertian Anak……………………………………………………………………………. 5

4.    Perkembangan Moralitas Anak………………………………………………………… 6

5.    Tingkat dan Tahapan Perkembangan Moralitas………………………………….. 6

6.    Perkembangan Penghayatan Keaagamaan…………………………………………. 8

7.    Peranan Orang Tua Terhadap Moral Anak………………………………………… 9

8.    Peranan Lingkungan Sekolah Terhadap Moral Anak………………………….. 9

9.    Peranan Keagamaan Terhadap Moral Anak……………………………………… 10

C. Analisis dan Implikasi

C.1    Analisis ……………………………………………………………………………………. 11

C.2    Implikasi…………………………………………………………………………………… 13

D. KESIMPULAN……………………………………………………………………………….. 16

E.        REFERENSI

 

A.    RASIONAL

Dewasa ini perkembangan teknologi sangat gencar sekali. Hal ini terlihat dari beberapa fenomena terkait barang dan alat-alat teknologi. Salah satu contoh paling nyata adalah penggunaan telepon seluler atau ponsel. beberapa tahun yang lalu HP masih menjadi barang yang dianggap mewah dan hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang bisa memilikinya. Jangan harap orang-orang dari kalangan ekonomi lemah bisa membelinya karena untuk makan saja pun terkadang pas-pasan. Ketika itu barang ini menjadi sebuah identitas yang membedakan status sosial seseorang.

Seiring zaman yang terus berkembang, kini telah terjadi pergeseran yang cukup signifikan. Telepon seluler di era sekarang nampaknya merupakan barang yang wajib dimiliki oleh setiap orang termasuk orang-orang yang dikategorikan berpenghasilan rendah. Fenomena sekarang yang notabene seorang penjual sayur, ojek, bahkan pengamen sekalipun memilikinya. Hal tersebut karena harga barang teknologi yang satu ini perlahan mulai merosot seiring persaingan yang terjadi di pasar teknologi.

Hal ini tentunya memiliki dampak positif yang sangat besar, karena dengan alat tersebut kita menjadi mudah dalam proses berkomunikasi. Tentunya bukan hanya sebatas  pada telpon seluler saja namun lingkup teknologi itu sangat luas. Kita ambil contoh lain yaitu internet. Internet adalah sebuah perkembangan teknologi yang sangat canggih. Di dalamnnya banyak fitur- fitur atau hal- hal yang bisa mempermudah kita baik dalam pencarian informasi atau proses komunikasi.

Namun, dari semua perkembangan teknologi tersebut ada kekhawatiran dari kami terhadap perkembangan moral dan keagamaan anak. Karena dewasa ini penggunaan teknologi serupa sudah menjangkau kepada kalangan anak-anak, baik itu usia SD atau TK sekalipun.

Dari sisi manfaat pemberian alat-alat teknologi kepada anak-anak tentunya memiliki dampak positif yang sangat besar. Akan tetapi, apakah manfaatnya lebih banyak dari madharatnya atau malah sebaliknya?.Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih mendalam dalam sebuah pembahasan. Apakah perkembangan teknologi berpengaruh terhadap moral dan keagamaan anak ?

Dari beberapa masalah yang muncul tersebut, maka kami bermaksud untuk membahasnya secara singkat dalam sebuah makalah yang berjudul “ Moral dan Keagamaan Anak”

 

B.     TEORI POKOK

1.   Pengertian Moral

Setiap manusia memiliki moral, moral adalah nilai-nilai yang ada pada diri manusia. Dalam buku Pembentukan Kepribadian Anak karya Dr. Sjarkawi, M.Pd. bahwa : ”Moral berasal dari bahasa Latin, yaitu kata mos, (adat istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan), mores (adat istiadat, tabiat, watak, akhlak, cara hidup) (Lorens Bagus,1996:672). Secara etimologi etika dan moral memiliki arti yang sama karena berasal dari bahasa yang sama yaitu adat kebiasaan, tetapi asal bahasa nya berbeda, etika berasal dari bahasa Yunani, dan moral berasal dari bahasa Latin (Runes:1977:202). Jadi arti dari moral dan etika memiliki arti yang sama tapi asal bahasa nya berbeda. Kesimpulannya etika dan moral memiliki arti yang sama yaitu konteks,  aturan , dan cara seseorang dalam mengatur tingkah lakunya agar sesuai dengan norma yang berlaku dan nilai yang dipegang seseorang agar sampai pada tujuan yang diharapkan.

Moral juga dapat dipakai sebagai alat untuk mengukur layak atau tidaknya suatu perbuatan, atau baik tidaknya perbuatan yang dilakukan. Menurut Atkinson (1969) bahwa : ”Mengemukakan moral atau moralitas adalah tentang pandangan baik dan buruk, benar dan salah, dan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan”. Jadi moral itu adalah penilaian dalam diri manusia apa yang harus dilakukan tapi sesuai dengan norma yang berlaku.

2. Pengertian Pendidikan Keagamaan

Pendidikan memiliki makna yang sangat luas, sebagian masyarakat yang minim dalam pengetahuannya hanya mengetahui bahwa pendidikan adalah apa-apa yang diajarkan di sekolah dan bagaimana cara mendidik anak. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003, untuk Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa, dan Negara.

Oleh karena itu pendidikan sangatlah penting. Untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang edukatif dan kondusif  sehingga tercapailah dalam usaha pembentukan peserta didik dalam pengembangan dirinya yang memiliki akhlak yang mulia, pendalaman agama yang mantap, dan pembentukan kepribadian yang komprehesif. Sedangkan definisi pendidikan agama islam disebutkan dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SD dan MI adalah:

“Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadist, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.”

Pendidikan Agama Islam sangatlah penting bagi anak, karena Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dasar anak yang harus ditanamkan dari masa kecil. Pendidikan agama islam bertujuan untuk membentuk peserta didik yang mengamalkan alam perbuatannya sesuai ajaran agama yang berasaskan sumber utama yaitu kitab suci Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi ringkasnya Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang tangguh menghadapi zaman, didasari keimanan yang kuat, dan pengamalan perbuatan yang berakhlak mulia.

Namun dalam perwujudan peserta didik seperti yang tertuang diatas memerlukan upaya atau usaha yang seimbang pula, karena dari upaya yang baik itulah menghasilkan buah yang baik pula. Khususnya dari pendidikan agama dan kehidupan beragama yang terjadi dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, orang tua, dan sekolah. Karena peranan lingkungan sekitar sangat berpengaruh  pada perkembangan moral dan keagamaan anak.

Masalah yang dihadapi saat ini adalah bagaimana cara penyampaian pendidik agama islam agar terwujud sesuai dengan harapan yang di targetkan. Hal yang paling terpenting adalah metodologi, atau pembenahan metode, karena metode adalah komponen terpenting yang berisikan tujuan, materi, evaluasi, situasi dan lain-lain. Oleh karena itu pembenahan metodologi Pendidikan Agama Islam adalah hal yang terpenting dalam pembelajaran peserta didik.

Dalam metodologi ini adalah upaya menarik minat dari peserta didik agar tertarik untuk mempelajari agama Islam. Karena metode ini adalah kunci keberhasilan suatu pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan kepada Pendidik agama islam agar membuat metode semenarik mungkin

3. Pengertian Anak

Anak adalah karunia yang diberikan maha pencipta, yang diamanahi untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Anak adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan kepemimpinan di suatu daerah atau suatu wilayah.

Menurut Hurlock (1980), manusia berkembang melalui beberapa tahapan yang berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bisa berlaku umum. Untuk lebih jelasnya tahapan perkembangan tersebut dapat dilihat pada uraian tersebut: – Masa pra-lahir : Dimulai sejak terjadinya konsepsi lahir – Masa jabang bayi : satu hari-dua minggu. – Masa Bayi : dua minggu-satu tahun. – Masa anak : – masa anak-anak awal : 1 tahun-6 bulan, Anak-anak lahir : 6 tahun-12/13 tahun. – Masa remaja : 12/13 tahun-21 tahun – Masa dewasa : 21 tahun-40 tahun. – Masa tengah baya : 40 tahun-60 tahun. – Masa tua : 60 tahun-meninggal .

Masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengertian anak dalam aspek agama, anak adalah makhluk yang lemah dan mulia yang harus dididik dan kewenangannya dari kehendak Allah SWT melalui proses penciptaan. Oleh karena itu anak adalah kehidupan yang mulia yang harus diberi nafkah lahir dan batin, dan diberi pendidikan agar menjadi anak yang dapat mempertanggung jawabkan segala sesuatu di masa mendatang. Dalam pengertian islam, anak adalah karunia yang diberikan manusia yang akan memakmurkan dunia sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin yaitu pewaris ajaran Islam.

4. Perkembangan Moralitas Anak

Nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah penting, arti dari moralitas atau moral itu sendiri berasal dari bahasa latin Mos ( jamak:mores) yang berarti cara hidup atau kebiasaan.

Terdapat enam prinsip moral, yaitu sebagai berikut :

  1. Prinsip keindahan (beauty)
  2. Prinsip persamaan (equality)
  3. Prinsip kebaikan (goodness)
  4. Prinsip keadilan (justice)
  5. Prinsip kebebasan (liberty)
  6. Prinsip kebenaran (truth)

Dalam proses penyadaran moral akan bertumbuh melalui interaksi dengan lingkungannya, baik itu lingkungan sekolah, lingkungan tempat tingggalnya yang dalam lingkungan-lingkunganya itu ia akan mendapat larangan, suruhan, pembenaran, ataupun celaan,  dan akan ada proses timbal balik dari apa yang ia lakukan.

Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat rendah, karena perkembangan intelektual anak belum mencapai masa dimana ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

5. Tingkat dan Tahapan Perkembangan Moralitas

Gage & Berliner dalam  Lawrence Kohlberg sebagaimana yang dikutip oleh Nurishan (2011)  menyatakan bahwa perkembangan moralitas pada anak-anak itu pada dasarnya dapat dilukiskan tingkatan, tahapan, dan ciri-ciri perkembangannya sebagai berikut :

Level of Moral Thouhgt (Tingkat Kesadaran Moral) :

  1. 1.      Preconvetional level 

Anak menyambut adanya nilai-nilai buruk, hanya karena sesuatu itu akan menyakiti-menyenangkan secara fisik atas kekuatan kehebatan yang memberikan nilai atau aturan-aturan yang bersangkutan.

  1. 2.      Conventional level

Individu memandang apa yang diharapkan family, kelompok atau bangsa. Setia dan mendukung aturan sosial bukan sekadar konformitas, melainkan berharga.

  1. 3.      Postconventional autonomous , or principled level

Usaha dilakukan mendefinisikan prisip-prinsip moralitas yang tidak  te rikat oleh orang pendukung atau pemegang atau penganutnya : universal.

 

Stages of Moral Develoment (Tahapan Perkembangan moral)

  1. 1.      The punishment obdience orientation

Anak berusaha menghindari hukuman menaruh respect karena melihat sifat yang memberi aturan yang bersangkutan.

  1. 2.      The instrumental ralativist orientation

Sesuatu itu dapat dipandang benar kalau dapat memuaskan dirinya, juga orang lain. Pragmatic morality.Hubungan insani seperti jual-beli, kau cubit aku, kucubit kau.

  1. 3.      The interpersonal concordance orientation

Sesuatu perillaku di pandang baik kalau menyenangkan, dan membantu orang lain, kau kan disetujui atau diterima kalau berbuat baik.

  1. 4.      Authorithy and social order maintaining orientation

Perilaku yang benar ialah menunaikan tugas kewajiban, menghargai kewibawaan, dan mempertahankan peraturn yang berlaku.

  1. 5.      The social contract legalistic orientation

Pelaksanaan undang-undang dan ha-hak individu diuji secara kritis, aturan yang diterima masyarakat penting. Prosedur penyusunan aturan di tekankan : rasional

  1. 6.      The universal ethical principle orientation

Kebenaran didefinisikan atas kesesuaiannya dengan kata hati, prinsip-prinsip etika yang logis dan komprehensif.Pengakuan atas hak dan nilai asasi manusia dan individu.

6. Perkembangan Penghayatan Keaagamaan

a.    Tahapan Perkembangan Penghayatan Keagamaan

Sejalan dengan perkembangannya kesadaran moralitas, perkembangan penghayatan keagamaan, yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual di samping emosional dan volisional (konatif), mengalami perkembangan. Menurut para ahli umumnya (Zakiyah Darajat, Starbuch, William James) yang dikutip oleh Nurihsan (2011), sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat dibagi dalam tiga tahapan itu ialah sebagai berikut :

  1. Masa kanak-kanak (sampai usia tujuh tahun) yang ditandai, antara lain oleh hal berikut ini :

i)            Sikap keagamaan reseptif meskipun banyak bertanya.

ii)          Pandangan ketuhanan yang anthtopormoph (dipersonifisikan).

iii)        Penghayatan secara rohaniah masih supercial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau partisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.

iv)        Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf kemampuan kognitifnya  yang masih bersifat egocentric (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya)

  1. Masa anak sekolah (7-8 sampai 11-12 tahun) yang ditandai antara lain, oleh hal berikut ini :

i)          Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian

ii)        Pandangan dan paham ketuhanan diterangkan secara rasional  berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya.

iii)      Pengahayatan secara rohaniah makin mendalam, malaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.

  1. Masa remaja (12-18 tahun) yang dapat dibagi kedalam kedua sub tahapan, ialah sebagai berikut ini :

i)     Masa remaja awal

ii)        Masa remaja akhir

b.    Proses Pertumbuhan Penghayatan Kegamaan

Ajaran agama menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan memiliki potensi beragama, maka keluarganyalah yang akan membentuk perkembangan agamanya itu. Oleh karena itu keluarga hendaklah menciptakan lingkungan psikologis yang mendukung karakter anak dalam menjalankan ajaran agamanya.

7. Peranan Orang Tua Terhadap Moral Anak

Keluarga yaitu ayah dan ibu adalah peran terpenting dalam pembentukan moral seorang anak, orang tualah yang akan mempertanggung jawabkan masa depan anak-anaknya.Dunia ini penuh dengan cobaan dan hal-hal yang tidak diduga-duga, oleh karena itu orang tua mempunyai peran dalam pengarahan dan pembimbing anak dan sebagai tempat pusat informasi dari segala hal yang tidak di ketahui.Sejak kecil orangtua lah yang mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai moral, keagamaan, tata krama, sopan santun dan lain-lain.Orang tualah yang mengarahkan anaknya dalam masalah keagamaan.Seorang anak  itu biasanya mengikuti agama orang tuanya.

Hubungan orang tua dan anak juga sangat mempengaruhi pembentukan moral anak. Anak yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tua maka pembentukan karakter anak pun akan menjadi baik, dan hubungan anak yang kurang baik dengan orangtuanya maka akan mempengaruhi perkembangan anak yang kurang baik.

8.  Peranan Lingkungan Sekolah Terhadap Moral Anak

Peran sekolah adalah peran kedua setelah peran keluarga, sekolah adalah tempat anak bersosialisasi dengan teman-temannya.lingkungan sekolah sangat mempengaruhi pembentukan anak.Oleh karena itu sebagai orang tua harus memilih sekolah yang tepat karena mempengaruhi masa depan seorang anak kelak. Dalam memilih sekolah untuk anak kita harus memperhatikan hal-hal yang penting yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual, dan social yaitu hal-hal yang harus kita perhatikan adalah sebagai berikut:

1.    Pilihlah sekolah yang tertib, karena lingkungan sekolah yang tertib akan mempengaruhi anak menjadi orang yang tertib pula

2.    Output yaitu lihatlah lulusan dari sekolah itu, apakah menghasilkan lulusan yang unggulan dan berkualitas

3.    Jalin kerja sama yang baik dengan guru

4.    Perhatikan guru-guru pendidik, lihatlah apakah guru-guru pendidiknya berkualitas atau tidak

5.    Pertimbangkan jarak dari sekolah ke rumah, pilihan yang terbaik adalah pilihlah sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah agar waktu anak berkumpul bersama keluarga tidak sedikit

 

9. Peranan Keagamaan Terhadap Moral Anak

Setiap anak mempunyai hak untuk memeluk agama yang dianutnya masing-masing.seorang pendidik harus memperhatikan pendidikan anak didiknya sesuai norma-norma agama yang berlaku dalam masyarakat dan anak diwajibkan untuk mendalami agamanya.Pendidikan agama adalah pendidikan yang penting untuk membina ketakwaan kepada Allah dan berperilaku sesuai dengan Qur’an dan As-Sunnah.

  • C.    ANALISIS DAN IMPLIKASI

1     Analisis

Dewasa ini masyarakat tidak terlepas dari perkembangan teknologi, baik dari kalangan dewasa dan anak-anak, terlebih kepada anak-anak yang memiliki kemampuan untuk lebih mudah memahami teknologi mulai dari handphone, laptop, dan internet sehingga berimbas pada pemikiran dan tingkah laku mereka. Anak-anak dapat mengetahui berbagai informasi yang mereka inginkan sehingga pengetahuan mereka bertambah, ini memang baik agar anak-anak tidak ketinggalan zaman, akan tetapi bagaimana jika anak-anak mengakses informasi yang tidak seharusnya mereka ketahui seperti pornografi, online games, dsb. Sangat mengkhawatirkan jika kita membiarkan itu terjadi karena akan berdampak pada moral, emosi, serta nilai-nilai keagamaan mereka sejak dini.

Jika dilihat dari segi waktu anak-anak akan menggunakan satu sampai dua jam waktu mereka untuk bermain didepan layar komputer mengakses apa yang mereka inginkan sehingga mereka menilai bahwa waktu sudah tidak menjadi hambatan karena didukung dengan jasa pelayanan internet (warnet) yang menyediakan waktu 24 jam. Tidak jarang kita melihat ketika menjelang petang (maghrib) anak-anak yang biasanya pergi untuk mengaji kini pergi ke warnet untuk sekedar bermain online game bahkan jika moral anak-anak sudah terkontaminasi dengan hal-hal berbau pornografi maka emosi mereka akan berkembang hingga tidak menutup kemungkinan jika terjadi tindakan asusila terhadap teman sebaya mereka.

Sebagai calon pendidik kita harus sudah mengetahui tentang perkembangan dan karakteristik peserta didik yang meliputi:

  1. Mereka (anak usia SD) secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.
  2. Anak usia sekolah dasar senang bermain dan lebih suka bergembira.
  3. Anak SD suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi sesuatu situasi dan mencobakan hal-hal yang baru.
  4. Anak SD bisa tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka mengalami ketidak puasan dan menolak kegagalan-­kegagalan.
  5. Mereka (anak usia SD) belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi.

Dari lima alasan tadi kita harus memahami karakteristik dan perkembangan anak kemudian ada faktor lain yang mempengaruhi seperti lingkungan yang kurang kondusif contohnya anak-anak mulai berani merokok karena melihat banyak iklan rokok dimana-mana dan melihat remaja yang merokok, yang penting mereka tidak ketahuan ketika merokok. Ini sungguh membahayakan karena dapat merusak kesehatan bahkan menyebabkan kematian. Sistem pendidikan harus lebih menekankan pada moral dan keagamaan anak. Keberhasilan pembangunan pendidikan, khusunya pendidikan moral di China patut kita tiru. Pendidikan moral usia anak SD di China berbeda dengan pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada karakter akhlak (implementasi moral) melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good, yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan aspek fisik, sehingga menghasilkan akhlak mulia (moral yang baik) bisa terukir menjadi habit of the mind, habit of the hart, habit of the hands (Google Pendidikan Moral, dalam Kusrahmadi, 2007).

Pendidikan moral harus direncanakan secara matang oleh stakeholders , sebagai think-tank, baik para pakar Pendidikan moral seperti rohaniawan (tokoh agama), pemimpin non formal (tokoh masyarakat), kepala sekolah, guru-guru, orang tua murid. Pendidikan moral ini harus memperhatikan nilai-nilai secara holistik dan uiniversal. Keberhasilan pendidikan moral dengan keluaran menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan kompetensi sosial yang memiliki moral luhur dan dinamis sehingga menghasilkan warga negara yang baik (good citizen).

 

 

2     Implikasi

Setelah memerhatikan beberapa uraian diatas tentang perkembangan moral dan keagamaan anak, maka lembaga sangat dituntut untuk mengembangkan atau memperbaiki dan membangun moral dan nilai keagamaan pada anak agar terciptanya manusia yang bermoral dan religius.

Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat digunakan guru di sekolah dalam membantu perkembangan moral dan spiritual peserta didik :

  1. Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yakni menjadikan sekolah sebagai atmosfer moral dan agama secara keseluruhan. Atmofer disini termasuk peraturan sekolah dan kelas, sikap terhadap kegiatan akademik dan ekstrakulikuler, orientasi moral yang dimiliki guru dan pegawai serta materi teks yang digunakan. Terutama guru dalam hal ini mampu menjadi model tingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai moral dan agama. Tanpa adanya model tingkah laku yang baik dari guru, maka pendidikan moral dan agama yang diberikan di sekolah tidak akan menjadi efektif menjadi peserta didik sebagai seorang yang moralis dan religius.
  2. Memberikan pendidikan moral langsung (direct moral education) , yakni pendidikan moral dengan pendekatan pada nilai dan juga sifat selama jangka waktu tertentu atau menyatukan nilai-nilai dan sifat-sifat tersebut ke dalam kurikulum. Dalam pendekatan ini, instruksi dalam konsep moral tertentu dapat mengambil bentuk dalam contoh dan definisi, diskusi kelas dan bermain peran, atau memberi reward  kepada siswa yang berprilaku secara tepat.
  3. Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai (values clarification), yaitu pendekatan pendidikan moral tidak langsung yang berfokus pada upaya membantu siswa untuk memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka dan apa yang berharga untuk dicari. Dalam klarifikasi nilai, kepada siswa diberikan pertanyaan atau dilema, dan mereka diharapkan untuk memberi tanggapan, baik secara individual maupun secara kelompok. Tujuannya adalahh untuk menolong siswa menentukan nilai mereka sendiri dan menjadi peka terhadap nilai yang dianut orang lain.
  4. Menjadikan pendidikan wahana yang kondusif bagi peserta didik untuk mengkhayati agamanya, tidak hanya sekedar bersifat teoritis, tetapi penghayatan yang benar-benar dikontruksi dari pengalaman keberagaman. Oleh sebab itu, pendidikan agama yang dilangsungkan di sekolah harus lebih menekankan pada penempatan peserta didik untuk mencari pengalaman keberagaman (religiousity). Dengan pendekatan demikian, maka yang ditonjolkan dalam pendidikan agama adalah ajaran dasar agama yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, seperti kedamaian dan keadilan.
  5. Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui pendekatan spiritual parenting seperti :
    1. Memupuk hubungan sadar anak dengan Tuhan melalui doa setiap hari.
    2. Menanyakan kepada anak bagaimana Tuhan terlibat dalam aktivitasnya sehari-hari
    3. Memberikan kesadaran kepada anak bahwa Tuhan akan membimbing apabila kita meminta.
    4. Menyuruh anak merenungkan bahwa Tuhan itu ada dalam jiwa mereka dengan cara menjelaskan bahwa mereka tidak dapat melihat diri mereka tumbuh atau mendengar darah mereka mengalir, tetapi tahu bahwa semua itu sungguh-sungguh terjadi sekalipun mereka tidak melihat apapun (Desmita, 2009: 286-287)

Menurut Habibah sebagaimana yang dikutip oleh Kusrahmadi (2007) dalam sosialisasi pendidikan moral dapat digunakan pendekatan indoktrinasi, klasifikasi nilai, keteladanan, dan perilaku guru. Keempat pendekatan tersebut di atas diharapkan dapat diterapkan sesuai dengan situasi keondisi serta dilakukan secara holistik sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih. Pendekatan di atas juga diharapkan guru mengetahui karakteristik siswa maupun kondisi kelas, dan seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan psikologi pendidikan sehingga kelas kondusif untuk pernbelajaran moral.

Pendekatan indoktrinasi dengan cara memberi hadiah atau hukuman, peringatan, dan pengendalian fisik. Sedang pendekatan klasifikasi nilai, dengan cara penalaran dan ketrampilan. Pendekatan keteladanan dengan cara disiplin, tanggung jawab, empati, dan pendekatan pembiasaan dengan cara perilaku seperti berdoa, berterima kasih. Pendekatan habitus diharapkan dapat merubah perilaku moral (Ambarwati dalam Kusrahmadi, 2007)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk mengembangkan moral dan keagamaan anak diperlukan sosok atau figur yang bisa menjadi contoh bagi mereka sehingga dapat dipastikan bahwa seorang pengajar atau guru harus memiliki sikap yang religius dan memiliki moral yang mampu membimbing para peserta didik dengan menggunakan metode-metode yang lebih mengutamakan personal serta memberikan implementasi kepada para peserta didik contohnya memberikan reward kepada anak yang aktif di kelas dan anak yang rajin membaca Al-Qur’an.

Selain figur dari seorang guru, peran orangtua anak juga sangat penting karena kurangnya pantauan dari para orangtua membuat anak cenderung memiliki kebebasan oleh karena itu diperlukan controlling dari orang tua tentang kegiatan si anak atau apa yang dia telah pelajari. Orang tua harus sering berdialog dengan anak dengan cara bermain di alam terbuka atau saat si anak sedang santai mengerjakan PR kemudian orangtua harus menemukan cara belajar yang efektif untuk anak dan memberikan pemahaman terhadap agama melalui kisah-kisah teladan dan mengingatkan anak untuk beribadah dan berdo’a dengan mengikuti pengajian di masjid serta meminta guru mengaji untuk memberikan pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai akhlak untuk mengembangkan pribadi anak.

Kemudian ada technology control agar anak tidak berlebihan dalam menggunakan teknologi yang mana didalamnya terdapat banyak informasi yang baik bahkan buruk bagi perkembangan anak. Orang tua memiliki waktu untuk membimbing anak dalam penggunaanya.

 

  1. D.    KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi mempengaruhi moral dan keagamaan anak karena didalamnya terdapat banyak hal-hal yang jika tidak diawasi akan berdampak pada nilai-nilai kepribadian anak. Karena teknologi memberikan pleasure bagi semua kalangan termasuk anak-anak. Banyak hal yang negatif yang terdapat didalamnya contohnya pornografi yang dapat merusak moral dan menghilangkan nilai keagamaan anak sehingga harus ada kontrol dari pengajar atau orangtua yang intensif.

Masa anak-anak adalah masa ingin tahu sehingga kita sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus memberikan tingkah laku dan nilai moral kepada peserta didik dengan metode yang tepat yang lebih menekankan pada kegiatan yang menarik minat mereka namun tetap memberikan edukasi pada anak, lalu guru harus memahami karakteristik anak dan gaya belajar anak agar dalam penyampaiannya para peserta didik dapat mengerti.

Terutama dalam pembelajaran moral anak diberikan pembelajaran spiritual agar anak tidak jauh dari agama dan membiasakan diri menerapkan nilai-nilai akhlak dalam kehisupan sehari-hari. Memberikan pemahaman akan adanya Tuhan ke dalam jiwa mereka dan menyadari akan adanya Tuhan sebagai Pencipta segala bentuk kehidupan dan menonjolkan dasar agama dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, seperti kedamaian, keadilan, ibadah.

 

  • E.     REFERENSI

 

Anonim._______. Peran Guru Pendidikan  Agama Islam dalam Pembentukan Karakter ( online )(http://www.panritae.com/pendidikan/peran-guru-pendidikan-agama-islam-dalam-pembentukan-karakter-anak.html , diakses 06 November 2012 )

Anonim.2009. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama(online) (http://islamblogku.blogspot.com/2009/07/pengertian-dan-tujuan-pendidikan-agama_1274.html, diakses 06 November 2012 )

Anonim.2011. Peranan Orang  Tua dalam Membentuk (online) ( http://adamnazmul.blogspot.com/2011/11/peranan-orang-tua-dalam-membentuk.html, diakses 06 November 2012 )

Anonim.2012. Definisi Anak  (online) http://edu-kasi.kompasiana.com/2012/05/15/definisi-anak-463129.html, diakses 06 November 2012 )

Anonim.2012. Pengaruh Lingkungan terhadap KarakterAnak  (online) (http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/pengaruh-lingkungan-terhadap-karakter-anak/, diakses 06 November 2012 )

Anonim.2012. Peran Orang Tua dalam Pembentukan (online)( http://mamet-frasesza-online.blogspot.com/2010/12/peran-orang-tua-dalam-pembentukan.html, diakses 06 November 2012 )

Desmita, (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosda

Kusrahmadi, S.D. 2007. Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Anak Sekolah Dasar

 

Nurihsan,A.J dan Mubiar Agustin. 2011. Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Refika Aditama

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MentoringTrainer_Devia

situs milik seorang Trainer bidang Mentoring

Sarana Berbagi

Berbagi untuk menang

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Kortem-MI

sahabatmuroby.com

... sahabat berbagi ilmu dan hikmah

A Call for Youth

Berbagi untuk Saling Menguatkan

IWAN MUKHTAR

Belajar Menjadi Pribadi Yang Terbaik

My blog, my story....

Let me share my own word to the world

Itik Kecil

Me, myself and Ira Hairida Yuliani

BELALANG CEREWET

harus ada yang bawel

Dunia Pagi

Karena di pagi harilah semuanya bermula

ijongisme

Sebuah isme yang lahir dari seorang ijonk lewat pengalaman puitiknya sehari-hari

Fight For Freedom

- Iwan Yuliyanto Ideas -

Tatty Elmir

catatan jelajah sebuah langkah kecil

i don't drink coffee but cappuccino

segala catatan yang terjadi dalam kehidupan Billy Koesoemadinata

notes from Qatar

Thoughts | Words | Dreams | Future

Andriyans S.T

Bergerak Atau Tergantikan

Catatan Harian Syamsudin Kadir

Mengeja Huruf, Memaknai Kehidupan

Warung Fiksi ®

jasa penulis dan tips penulisan lintas media

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: